Siapa bilang jadi DJ itu cuma buat musisi elektronik “murni”? Pada Sabtu, 12 September 2026, musisi legendaris asal Islandia, Björk, tampil membawakan DJ set di edisi “New Chapter” dari Dissonanze Festival, tepatnya di Auditorium Parco della Musica Ennio Morricone, Roma. Penampilan ini langsung jadi perbincangan hangat di kalangan penggemar musik elektronik dunia, mengingat Björk lebih dikenal sebagai musisi eksperimental dan penyanyi ketimbang seorang DJ.
Set yang dibawakan Björk malam itu benar-benar eklektik dan jauh dari mainstream. Ia memutar lagu-lagu dari underscores (“Unlimited Love”), ABADIR (“The Primitivist”), duo asal label Nyege Nyege Tapes yaitu DJ Travella dan Jay Mita, hingga karya dari Yaa Naara, Fave, Kasimyn, Theodora, Arca, dan Kelela. Kombinasi ini menunjukkan betapa luas dan berani selera musik Björk, sekaligus jadi pengingat bahwa dunia DJing itu jauh lebih luas dari sekadar genre house atau techno yang biasa kita dengar di festival besar. Penampilan ini juga makin menarik karena Björk tampil lengkap dengan kostum rancangan Kit Wan Studios dan topeng karya Karina Bond, mempertegas identitas visual yang selalu jadi ciri khasnya di atas panggung.
Momen ini juga datang di tengah rangkaian aktivitas besar Björk sepanjang 2026, termasuk menggelar “Echolalia Festival” miliknya sendiri bertepatan dengan gerhana matahari total di Islandia pada Agustus lalu, serta pameran seni yang sedang berlangsung di Galeri Nasional Islandia. Björk sendiri dikabarkan tengah menyiapkan album baru yang direncanakan rilis pada 2027 — menandakan bahwa di usia kariernya yang sudah matang, ia tetap terus bereksplorasi lintas medium, termasuk lewat dunia DJing yang relatif baru baginya.
Kisah Björk ini menyampaikan pesan penting buat siapa pun yang ragu untuk mulai belajar DJ karena merasa “bukan tipe orang elektronik” atau datang dari latar belakang musik yang berbeda. Faktanya, DJing adalah medium ekspresi yang terbuka untuk siapa saja — vokalis, musisi band, produser, bahkan seniman visual sekalipun bisa menemukan caranya sendiri untuk bercerita lewat mixer dan turntable. Yang dibutuhkan hanyalah rasa ingin tahu, keberanian bereksperimen, dan tentu saja, fondasi teknik yang benar supaya set yang dimainkan tetap enak didengar dan mengalir dari satu lagu ke lagu berikutnya.
Kalau kamu juga punya latar belakang musik yang unik dan ingin menuangkannya lewat DJ set, jangan ragu untuk mulai belajar dari dasar yang kuat. Kursus DJ yang tepat akan membantumu memahami teknik mixing, membaca karakter crowd, sampai membangun identitas musik yang autentik — persis seperti yang dilakukan Björk dengan caranya sendiri yang begitu personal dan berani.
Nggak peduli kamu datang dari latar belakang menyanyi, bermain band, atau bahkan baru pertama kali pegang controller DJ, yang terpenting adalah keberanian untuk mulai. Semua DJ hebat di dunia pun pernah berada di titik nol yang sama sebelum akhirnya menemukan suara mereka sendiri.
Fenomena musisi lintas genre yang merambah dunia DJ sebenarnya bukan hal baru, tapi makin sering terjadi belakangan ini seiring batas antar genre musik yang semakin kabur. Festival seperti Dissonanze memang dikenal berani mengundang nama-nama di luar kotak techno atau house konvensional, dan hasilnya justru sering jadi momen paling diingat penonton. Ini jadi bukti bahwa audiens musik elektronik modern makin terbuka terhadap eksplorasi dan kejutan, selama pembawaannya tetap punya karakter dan cerita yang kuat di baliknya.
Buat kamu yang baru mau mulai belajar DJ, momen seperti ini juga bisa jadi pengingat untuk nggak takut membawa warna musik yang berbeda dari kebanyakan orang. Justru keunikan selera musikmu, kalau diasah dengan teknik yang benar lewat kursus DJ yang tepat, bisa jadi kekuatan besar yang membedakan kamu dari DJ lain di skena yang sama.
Tertarik belajar DJ secara profesional dan menemukan gaya musikmu sendiri? Daftarkan diri kamu di Sekolah DJ Indonesia – www.sekolahdj.com dan mulai perjalanan musikmu hari ini!













Comments